Share pengalaman riding dengan menggunakan helm HJC R-PHA 10 Ben Spies

Alhamdulillah…setelah sekian lama vakum dari dunia tulis menulis, karena kesibukan kerja, akhirnya bisa curcol lagi di blog somplak ini. Beberapa tahun yang lalu (minggu lalu) Juragan sempat mendapat pemberian  sebuah helm.

Yup, sebuah helm HJC R-PHA 10 versi livery Ben Spies (lengkap dengan tanda bintang alay diatasnya ), sedikit penampakannya :

Cipondoh-20130630-01410

dan di hari minggu pagi akhir juni kemarin, saya mencobanya berkeliling mengitari wilayah Alam Sutera – Serang PP melewati kota Tangerang dan tembus ke arah Cikupa – Balaraja – Serang dengan waktu tempuh sekitar 7 jam (PP) dan jarak kurang lebih 145km. Impresi pertama saat menggunakan helm ini adalah very very comfortable, bahkan kenyamanan AGV K3 pun dirasa masih 1 level dibawah HJC (iyo Cuuk regane oleh agv 2 biji), IMHO. Air Flow-nya memang tidak sekencang AGV K Series, sedikit lebih smooth.

Kelebihan dari HJC R-PHA 10 menurut Juragan (IMHO) :

  1. Relatif lebih kedap suara, sehingga gak terlalu bising terkena angin saat menggeber kendaraan di kecepatan lebih dari 100kpj
  2. Kaca visor yg sangat terang, sehingga sangat membantu penglihatan terutama saat malam hari
  3. Busa yang soft dan nyaman namun tidak panas bila digunakan dalam jangka waktu yang lama
  4. sistem sirkulasi udara (airflow) yang baik, so gak panas saat digunakan bermacet2 ria sekalipun, terutama di Cikupa-Balaraja yang ditakdirkan macet
  5. Sangat ringan (hanya 1.250 gram, bandingkan dengan agv K3 yang 1.500 gram)
  6. Desain yang eye catching dengan finishing doff yang menarik
  7. Dan setiap pembelian HJC selalu tersedia bonus visor gelapnya,

Namun akan tetapi, seperti kata orang jawa timur-an “ono rego ono rupo”, satu2nya kelemahan dari HJC adalah harganya yang menyentuh banderol IDR 4.000.000,00 (Untungnya Juragan mendapatkan secara gretongan alias Casio – Casi Orang)

ben-spies-assen-victory

sekian, monggo dikomen masbroooo……

REVIEW HELM AGV K3 SERIES

Ohayo’…..Setelah sekian lama vakum dari dunia tulis menulis, akhirnya saya nulis lagi, hohoho…kali ini akan bahas aksesoris motor. Yup, helm…pelindung kepala dari panas, hujan, dan benturan saat berkendara. Dari sekian helm yang saya gunakan saya tertarik untuk mereview AGV varian K3 series serta KBC Zero/Euro (review KBC akan berada ditulisan edisi selanjutnya). Soalnya yang dirumah yang saya pake hari2 ya AGV itu plus partner pake KBC sebagai helm harian….picture AGV first, that’s right

dan versi Rossi Icon-nya:

Yup…kedua helm ini saya dapat dari rekan saya yg khusus jualan helm import dan lokal merk premium di kawasan jaksel. Sebenarnya gak habis pikir juga koq bisa saya beli helm seharga Blackberry Curve 3G ini…ckckckck…bener-bener somplak, kalo beli helm fullface lokal bisa dapat 10 biji ini, hadeuh….

Oke back to topic, helm ini 100% nyaman digunakan harian terutama pas panas-panas an + hujan (iyolah brooo…helm cetok biasa mah juga bisa), eitss tunggu dulu generasi K3 series ini cukup adem digunakan walaupun kondisi panas karena terdapat saluran angin di daerah dagu dan bagian atas helm yang terhubung dengan lubang angin di kepala atas. Satu, dua…busanya lebih lembut bila dibandingkan helm lokal dan bisa removable, jadi bisa dicuci dengan shampoo bayi. Tiga, desain dan penmilihan warna yang eye-catching. hohoho….

Walaupun tidak ada emblem SNI pada AGV namun standarnya udah diakui dunia bro (Snell Memorial dan DOT), terbukti pada saat saya tabrakan (ditabrak lebih tepatnya) pada kecepatan 113kmh sekitar sebulan yang lalu….

cuma baret doang

cuma baret doang, shell luar dan busa g ada yg rusak

dan kondisi kepala alhamdulilah sehat wal’afiat (cm motorQ aza agak remuk, hiksss…), alhamdulillah gak ada gejala pusing ato cidera kepala (kaki dan tangan yg cedera). Kesimpulannya, helm ini mampu mereduksi efek benturan ke kepala saya dengan sangat2 baik. Nah lo, dari sinilah jadi percaya istilah jawa kuno “Ana Rega Ana Rupa” (ada harga ada kualitas).

At Last, helm ini memang bukan yang terbaik ataupun  termahal, karena masih banyak yang lebih baik dan mahal macam AGV GP-Tech, Nolan X-Lite, Airoh, Shoei, Arai maupun HJC. Tapi setidaknya memberikan perlindungan lebih bagi kita yang hari-harinya menggunakan motor sebagai moda transport. Teringat kata2 seorang old friend “di jalanan, terkadang kita sudah hati2, tapi tidak selalu demikian dengan orang lain”. Silahkan dibaca dan dikomentari, semoga infonya berguna ( Biker somplak ^_^).

Fenomena Ambles Pada Motor Bebek

Beberapa waktu yang lalu perihal Shock belakang Yamaha Scorpio dan Yamaha Byson yang amblezz sempet menjadi topik pembicaraan sebagian besar rider roda 2. Eeeee..ternyata kejadian tersebut g hanya terjadi pada motor semprot batangan lho, motor bebek juga ada ternyata, nih penampakannya……

padahal shock udah stereo, tapi tetap saja ambles

Yup, tidak dipungkiri lagi honda supra x 100D lansiran 2004-2005 merupakan motor berjuta-juta umat.  Soalnya, populasinya di jalanan (ibukota maupun daerah) yang masih sangat banyak. Beberapa waktu yang lalu saya sempet bersua dengan sohib lama zaman SMA, dan beliau ternyata masih sangat setia dengan Supra X 2004-nya. Testimoni dari beliau, bahwa suara mesinnya masih sangat halus + ergonominya masih nyaman, spareparts murah menjadikannya urung untuk menjual tunggangannya walopun secara model dah keliatan agak ketinggalan.

Pas saya singgung terkait shock belakang yang amblezz, empunya tertawa dan mengatakan,

“Yoalah Hid…Hid…bobotQ wae satus kilo, motore g sampe semono, njaluk ra ambles piye lho” (Hid…berat badanku aza 1 kwintal, sementara motornya g sampai segitu, gimana g ambles lho)

Saya pun akhirnya menyimpulkan secara sederhana, sebaiknya kalo naik motor mbokya sesuai dengan ukuran body. hahahahaha…..

Performa Yamaha Byson Pasca 15 Bulan Pemakaian…..Alhamdulillah.

gambarnya dulu rek…..

dua bulan si kebo g mandi kembang ..... hehehe ....

Beberapa bulan yang lalu, Juragan Warung sempat membaca ulasan Kang IWB terkait impresi setahun menggunakan Yamaha Byson. Wah, akhirnya Juragan Warung terinspirasi juga, hehehehe……

Selama 1 tahun 3 bulan terakhir, JW menunggang Yamaha Byson lansiran 2010 warna abu-abu. Alhamdulillah JW merasa sangat2 puas dengan performanya. Detail kondisinya adalah :

  • Service Rutin setiap 2000km
  • Oli menggunakan Motul 10-40W
  • BBM menenggak Shell Super
  • Ban dan mesin masih standart
  • Penggantian Kampas rem depan 1x (belum 7.000km dah abis kampasnya)

Selama 1 tahun 3 bulan (setelah inreyen byson selama 2 bulan/ ± 2000km) menunggang byson yang JW rasakan adalah kenyamanan. Karakter mesin yang lembut serta getaran yang minim plus posisi duduk yang nyaman memberi kenyamanan berkendara. Byson alias kebo memang ber-body gambot, terlihat dari ukuran stang  fatbar, velg +ban lebar dan body yg terkesan kekar, dalam kondisi normal ban gambotnya ( 100/70 F dan 120/60 R) memberi efek stabil saat dibawa menikung dengan sedikit rebah. Namun dari segi handling motor ini justru ringan karena setting center of gravity yang tepat. Shock depannya yang berukuran 41mm mampu meredam getaran dengan sempurna dan memberikan efek yg sangat baik saat pengereman. Rem depan pun terasa sangat pakem untuk menghentikan laju si kebo (efeknya kampas cepet abizz…hehehehe).

Beberapa waktu yang lalu sempat beredar kabar bahwa byson sering mati mendadak. Disinyalir ini dikarenakan membran karbu vakum sudah kurang elastis lagi. Solusinya ya diganti, toh harganya murah. Sekedar tips masbro, saya sarankan untuk tidak membuka pasang klep vakum saat servis, cukup membuka karburator bagian bawah. Hasilnya so far so good , byson JW pun tidak mengalami masalah seperti itu.

Kelemahan yang terasa adalah pada rear-wheel bawaan pabrikan yaitu IRC Road Winner 120/60-17. Ban ini terasa tidak menapak sempurna saat kita menggeber byson di kecepatan > 110kpj, dan yang paling membahayakan adalah saat hujan karena ban sliding saat digunakan berbelok pada kecepatan tinggi (± 60kpj). Solusinya ya ganti wae ban-e rek. beberapa teman kantor menyarankan untuk mengganti dengan ban yang sedikit lebih “mahal”. Saran dari temen2 kantor ganti dengan Michellin Pilot atau Bridgestone Battlax BT-95, karena kualitasnya lebih bagus, IMHO.

Knalpot nembak!!!!! Kebo JW sempat mengalaminya tapi setelah dibenerin mekanik  Bengkel resmi di sektor 1 Bintaro, maka problem tersebut tuntas.

Shock belakang amblesss…..kaya penyakite scorpio lawas wae rek. Alhamdulillah kebo JW sehat2 saja. Solusinya diklaim ke dealer (pasti diganti koq, kan masih garansi) atau dikasi peninggi shock, sepertinya di FansPage Yamaha Byson banyak yang  jual. hehehe….

Kesimpulan….motor ini sangat-sangat nyaman, (IMHO) mengingat ukuran JW yang 180cm/70kg. tenaga byson memang hanya sekitar <14HP, namun untuk digunakan sebagai motor harian saya rasa sudah lebih dari cukup. Buat gaya dan nongkrong, jelassss….tampilannya yang berotot JW rasa sudah cukup menjadi identitas yang layak dibanggakan. kekurangan dari suatu produk akan selalu ada, tugas kita adalah merawatnya supaya si Kebo dapat berfungsi dengan optimal.

Silahkan dibaca dan dikomentari, semoga berguna bagi penunggang byson maupun yang berhasrat untuk memboyong kebo ke garasi rumah. Wassalam…..

>>>>>>>>>>KEEP BROTHERHOOD AND SAFETY RIDING<<<<<<<<<<

Surat Seorang Mahasiswa STAN untuk Bapak Prof. Dr. Bambang Sudibyo (repost)

By YP
08 November 2010, 15:46

Tulisan ini saya buat untuk menanggapi artikel yang dimuat di media suara merdeka online tanggal 04 Nopember 2010 atas artikel yang berjudul “SDM Perpajakan Sebaiknya dari PT”. Saya tujukan tulisan ini kepada Bapak Prof. Dr. Bambang Sudibyo karena ada pernyataannya yang sangat menyakiti hati nurani saya pribadi sebagai mahasiswa STAN.

Saya merasa sakit hati dengan pernyataan “mantan menteri” Bapak Bambang Sudibyo ketika menjadi pembicara tunggal dalam seminar nasional Reformasi Perpajakan Antara Harapan dan Kenyataan di STIE AUB Surakarta, 4 Nopember 2010. Beliau menyebutkan “STAN yang selama ini menjadi satu-satunya lembaga pendidikan yang mencetak SDM perpajakan harus dihentikan. Hal itu untuk memutus perembetan budaya korupsi.” Ia beralasan bahwa “SDM atau aparat pajak yang direkrut harus punya kompetensi teknis, profesional, punya integritas, dan nasionalisme yang tinggi.” Lihatlah teman, apakah ucapan tersebut – terutama statement awal – pantas diucapkan oleh orang sekaliber “mantan” menteri keuangan dan menteri pendidikan seperti Bapak Bambang Sudibyo? Tanpa tedeng aling-aling beliau yang “terhormat” berkata dengan lantang sambil mengarahkan telunjuknya ke STAN sambil berkata “STAN ADALAH KAMPUS YANG MENCIPTAKAN SDM PERPAJAKAN YANG KORUPTIF!”

Ada apakah dibalik keberanian sang “mantan” menteri melemparlan statement seperti itu? Mengapa beliau melemparkan statement tersebut ketika beliau sedang “lemah”, sedang tidak memiliki kekuasaan lagi? Apakah beliau ingin mendekap lagi kekuasaannya? Jika memang ia menganggap STAN adalah pencetak koruptor, kenapa tidak dibubarkan saja sejak ia menjabat sebagai menteri keuangan? Tentunya pada saat itu ia memiliki kekuasaan “Super Power” karena STAN berada di bawah kekuasaannya? Apakah selama ini alumni STAN tidak memiliki kompetensi teknis? tidak punya integritas? tidak memiliki nasionalisme yang tinggi? Ataukah beliau bercermin pada saat ia berkuasa?

Statement “pencetak budaya koruptif” adalah sebuah pernyataan yang tak berdasar, yang hanya ingin mendiskreditkan STAN. Siapapun tahu bahwa korupsi sudah mendarah daging di Indoonesia. Korupsi telah menyerang semua lini birokrasi di Indonesia, bahkan orang pintar sekaliber “Sri Mulyani” sendiri harus dilengserkan karena lantang menyuarakan kata integritas dan reformasi birokrasi. Coba tengok pembuatan KTP, pelanggaran lalin, perizinan usaha, birokrasi pemerintah daerah, pemilihan gubernur BI di DPR dan bahkan mantan menteripun tak sedikit yang terjerat kasus korupsi. Korupsi adah permasahan moral, yang salah adalah pelakunya yang memperkaya dirinya sendiri, bukan institusinya.

Sumpah demi Allah bahwa STAN tidak pernah mendidik kami untuk menjadi koruptor. Tidak ada satupun mata kuliah di STAN yang mengajarkan kami untuk menjadi koruptor. Tidak ada seorang dosenpun yang mengajari kami bagaimana cara korupsi yang aman dan nyaman. Tidak ada niat kami kulaih di STAN untuk menjadi koruptor. Tidak pernah terbersit sedikitpun dalam benak orang tua kami mengantarkan kami ke STAN untuk menjadi koruptor. Dan tidak pernah sekalipun dalam doa orang tua kami dalam ibadahnya untuk berdoa kepada tuhan, “Ya Tuhan, jadikanlah anak kami sebagai koruptor, dan biarkanlah dia hidup nyaman dari uang haram…” Jika Anda sebagai pemimpin yang mulia di negeri ini, lihatlah kata-kata Anda telah menjadi pisau yang tidak menyayat hati kami, tetapi juga alumni, dosen dan juga orang tua kami yang telah bersusah payah berdoa dan berusaha setiap hari membanting tulang agar kami bisa lulus dan menjadi orang yang berguna bagi Bangsa ini.

Bapak Bambang Sudibyo yang terhormat, jangan pernah sekalipun Anda menaruh kedengkian kepada kami. Bagaimana perasaan Anda jika berada di posisi kami? Apakah yang akan Anda rasakan ketika Anda telah berusaha keras menyisihkan beratus ribu pesaing? Apakah Anda pernah merasakan seperti kami, meluangkan waktu 3 tahun dalam hidup Anda untuk berjuang melewati jeratan DO hingga lulus nanti? Apakah Anda mengerti perasaan kami saat kami menandatangani surat pernyataan kesanggupan untuk ditempatkan dimana saja? Disaat surat itu kami tandatangani, tak ada hal lain yang bisa kami lakukan kecuali belajar dan belajar, berharap agar hasil pendidikan kami disini memberikan manfaat sehingga kami mendapat penempatan yang layak. Pernahkah Bapak berfikir selama kami bekerja kami memikul beban tanggung jawab pengelolaan keuangan negara yang amat berat? Apakah Anda memikirkan itu semua ketika Anda mengecap kami sebagai calon koruptor? Dimana hati nurani Anda?

Lihatlah asa dan harapan seratus ribu lebih putra-putri generasi muda Indonesia berjuang memperebutkan kesempatan belajar di STAN. Apakah mereka mendaftar STAN hanya untuk menjadi calon koruptor? Anda adalah seorang mantan menteri pendidikan, Anda lebih berkapasitas da;lam mempelajari psikologi pendidikan. Tahukah Anda ketika Anda mengecap STAN sebagai kampus pelopor budaya korupti, Anda telah menyakiti hati seratus ribu lebih siswa-siswi lulusan SMA yang ingin mendaftar USM STAN karena secara tak langsung Anda menuduh mereka ingin menjadi penerus “perembet budaya korupsi” Lihatlah kami disini setiap semester berjuang keras agar lolos dari jeratan DO sehingga kami tidak keluar sebagai pecundang dari STAN karena kami di DO? Dan lihatlah ketika orang tua kami bangga karena berhasil mengantar kami hingga diwisuda di STAN sedangkan hati kami tidak tenang karena menunggu akan kemana SK penempatan membawa diri ini berada. Siapa lagi kalau bukan kami, mahasiswa STAN, yang konsisten siap ditempatkan dimana saja di seluruh Indonesia? Apakah teman kami, sahabat kami, di PTN sana akan mau ditempatkan di Pulau Sabang, Mentawai, Nias, Sangir Talaud, Biak, Wasior dan daerah lain yang “Google Maps” saja sulit menemukan lokasinya?

Apakah Anda tidak pernah menyadari bahwa kemarin, tanggal 4 Nopember 2010, Anda telah salah berucap. Dengan lantangnya Anda mengatakan bahwa “STAN yang selama ini menjadi satu-satunya lembaga pendidikan pemasok SDM perpajakan”. Saat ini kementerian Keuangan tidak hanya merekrut SDM perpajakan dari STAN saja, tetapi juga melalui penyaringan CPNS Kementerian Keuangan. Lalu apakah jika ada pegawai pajak yang terlibat korupsi, haruskah Bapak menyalahkan STAN???

Kami memilih kuliah di STAN bukan karena kami ingin berkorupsi, bukan karena kami tidak mampu kuliah di PTN terkenal di bawah naungan Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional seperti UI, UGM, ITB, UNPAD, UNAIR, UNDIP dan PTN lainnya. Kebanyakan memang kami adalah mahasiswa yang berasal dari keluarga ekonomi pas-pasan, yang tidak mampu melanjutkan kuliah ke PTN favorit, entah karena ketiadaan dana atau biaya pendidikan di PTN yang sangat tinggi. Lalu buat apakah teman-teman kami di STAN, yang sudah kuliah 2, 3 dan 4 semester di perguruan tinggi namun ketika mereka diterima kuliah di STAN mereka tinggalkan studi mereka di PT? Apakah mereka resah karena takut tidak dapat pekerjaan setelah lulus dari Perguruan Tinggi nanti? Buat apa seorang mahasiswa semester 5 Fakultas Kedokteran meninggalkan studinya yang tinggal 2 semester lagi hanya untuk STAN? Buat apa seorang mahasiswa UI, ITB, UNDIP, UNPAD, UNAIR, UGM banyak yang lebih memilih STAN sebagai tempatnya menimba ilmu dibanding di Perguruan Tinggi Negeri yang sudah terjamin nama besarnya. Apakah mereka semua ingin melanjutkan budaya korupsi? Ataukah karena keresahan miss match yang terjadi di dunia pendidikan dewasa ini? Kita lihat saja banyak Sarjana Hukum yang menjadi Sales, banyak Sarjana Pertanian yang bekerja di Kementerian PU, apakah pantas STAN dicap sebagai “Perembet budaya korupsi” sedangkan STAN ikut membantu dunia pendidikan di Indonesia untuk menciptakan konsep link and match dunia pendidikan.

Apakah kami semua mahasiswa STAN hanya ingin menikmati kuliah gratis di STAN dan menikmati jaminan pekerjaan yang nyaman sebagai PNS di lingkungan Kementerian Keuangan? Bapak sebagai seorang mantan menteri sudah tahu pastinya berapa besaran nominal pendapatan bulanan seorang PNS Kementerian Keuangan dari STAN. Jika kami mau, kami bisa memilih jalan lain selain kuliah di STAN dan bekerja sebagai pegawai swasta dengan jenjang pendapatan yang bisa berkali-kali lipat daripada pendapatan seorang PNS biasa. Kami tidak ingin menyombongkan diri kami, banyak teman-teman kami yang memiliki kemampuan yang tidak kalah diadu dengan mahasiswa lain, tentunya masa depan mereka juga tak kalah cerah jika mereka mengambil jalan lain. Kami adalah mahasiswa terpilih, yang telah menyisihkan berpuluh-puluh ribu saingan kami demi menjadi bagian dari almamater STAN. Sebegitu hinakah kami jika kami berlomba-lomba untuk menjadi mahasiswa STAN hanya untuk menjadi KORUPTOR? Kami, mahasiswa STAN, berada di kampus perjuangan STAN ini untuk mengabdi pada negara, bukan untuk menjadi koruptor!

Saya memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada Bapak Prof. Dr. Bambang Sudibyo karena telah berani berbicara lantang dan mengarahkan telunjuknya kepada almamater kami. Akan tetapi, hati dan pikir saya ini hanya mampu menggoreskan pena untuk menjawab pernyataan Bapak yang sungguh sangat menyakitkan hati kami. Kami, sebagai mahasiswa STAN tidak akan terpancing dengan statement Bapak. Sudah berkali-kali kampus kami tercinta ini diterpa isu miring dan cacian dari pihak yang tidak senang dengan eksistensi kami yang terus melejit hingga saat ini. Kini lihatlah hasilnya, semakin kencang angin meniup tempat kami belajar, semakin erat pegangan kami untuk melewati terpaan angin itu dan semakin solid kami mempertahankan tanggung jawab yang kami emban di pundak kami.

Biarkanlah kami disini belajar dengan tenang, menunaikan tugas kami sehingga setelah kami lulus kami dapat menunaikan tanggung jawab kami pada bangsa ini. Tentunya sebagai manusia biasa Bapak hanya bisa mengintip kami dari luar rumah kami, namun akan bedanya jika Bapak berada di dalam dan menjadi bagian kami. Jangan usik kami, kita memiliki tanggung jawab sendiri-sendiri untuk membangun bangsa ini. Jangan pernah merusak sarang semut karena satu semut yang menggigit lengan Anda. Jangan pernah menggeneralisir kami sebagai pelestari budaya koruptif. Lihatlah di KPK sana, banyak alumni STAN yang berada disana, bukan sebagai koruptor, tetapi mereka adalah orang-orang yang menjerat koruptor. Sampai saat ini hanya Gayus Tambunan saja yang mencari masalah dengan hukum dan merusak citra baik almamater kami, tapi ia bukanlah cerminan dari diri kami. Apakah kami selama ini pernah menyinggung perasaan Bapak? Apakah kami pernah menyinggung eksistensi partai Bapak? Ataukah selama ini STAN telah mengalahkan popularitas instansi yang bernaung di bawah kekuasaan Bapak? Bapak Bambang Sudibyo yang terhormat, saya sangat menghormati Anda sebagai orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi, seorang Profesor Doktor yang bila dibandingkan dengan saya maka saya hanyalah manusia hina yang tidak ada apa-apanya. Mungkin kami sebagai mahasiswa STAN, akan dengan berlapang hati memaafkan pernyataan Bapak yang cukup menyakiti hati kami. Namun apakah Bapak, sebagai orang tua, akan bisa menerima jika anak-anak kesayangan Bapak, penerus keluarga Bapak dicap sebagai calon koruptor? Apakah orang tua kami mendidik kami untuk menjadi pelaku korupsi? Apakah orang tua kami membesarkan kami tidak dengan iman dan takwa? Orang tua mana yang tidak sakit hatinya jika anaknya dicap sebagai perembet budaya korupsi?

Marilah kita bersama-sama membangun negeri ini bukan dengan perkataan, tetapi dengan belajar, berkarya dan bekerja. Selamanya perkataan hanya akan hidup dalam pikiran selama kita tidak bangun untuk merealisasikannya!

Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan dalam tulisan ini. Saya mohon maaf sebesar-besarnya, tulisan ini adalah sebuah ungkapan curahan hati saya yang tersakiti sebagai mahasiswa STAN…

—————————————————————————————————————————————————-

Juragan warung juga telah 2 kali menjadi mahasiswa STAN. Pada tahun 2005-2006 di Prodip 1 bea cukai malang dan 2009-2010 di Prodip  III khusus akuntansi.  Dan….setahu saya yang bekerja di Instansi Depkeu bukan hanya STAN, tapi juga ada penerimaan umum dari sarjana dan penerimaan umum dari honorer 2005. Bila kita berkaca pada kasus Tax Fraud Gayus Tambunan tentu setiap orang “yang melek” informasi tentu akan menyoroti  kedudukan STAN, kami mengakuinya. Gayus adalah produk gagal dari STAN. Lulusan STAN lebih banyak ditempatkan di bagian teknis dan administrasi bukan pada bagian decision maker seperti halnya layaknya penerimaan umum sarjana. 1/2 dari Indonesia telah juragan jelajahi mulai:

  1. Pekanbaru
  2. Jakarta
  3. Tangerang
  4. Malang
  5. Surabaya
  6. Denpasar
  7. Banjarmasin
  8. Banjarbaru
  9. Pontianak
  10. Balikpapan
  11. Pulang Pisau
  12. Martapura
  13. Kelua
  14. Tamiang Layang
  15. Muara Teweh
  16. Bahaur
  17. Pandih Batu
  18. Palangka Raya
  19. Tangkiling

At Last….

Kami siap ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia demi terkumpulnya penerimaan negara supaya Indonesia ini tetap ada …..

SPEEDOMETER ALL NEW CBR 150 RR BERMASALAH, SPAREPART-e EMBUHHHH….

Alhamdulillah akhirnya saya bisa aktif menulis lagi, setelah lama vakum karena mesti dinas luar pulau…..

Beberapa bulan yang lalu saya sempat mengupload gambar All New CBR 150 versi built-up thai, nah kali ini saya coba sedikit mengulas tentang permasalahannya. Begini ceritanya, (penampakannya dulu ya….)

2 bulan yang lalu teman sekantor membeli All new CBR 150 warna hitam di salah satu dealer AHM di Solo. wiih, yang punya tentu senang bukan kepalang sampe jingkrak-jingkrak (kata istrinya).  Ning, setelah distater, dinyalain, dipanasin mesinnya apalagi dibawa jalan…eh weladalah jebule speedometer e koq g jalan alias wassalam. “Alamakjanggg…iki motor anyar koq wis ngadat speedo-ne, Hid”.

Saya yang disambati ya cm plonga-plongo kaya kebo.  Akhirnya diajukan lah klaim ke main dealer nya di Solo, ndilalah montir yang nangani juga masih baru alias awam megang CBR. Oke, baiklah akhirnya atas rekomendasi wangsit dari sana-sini dibawalah ke montir AHASS ter-maknyos se Solo. Setelah dicek, bongkar bagian speedometer….ditemukanlah bahwa kabel sensor yang menghubungkan sensor di bagian roda depan dan speedometer putus/ ndak nyambung. Koq iso ya? Masalahnya belum berhenti nyampe disitu, begitu mengajukan klaim minta ganti speedo ternyata stok lagi kosong, byuh jan lengkap tenan wis an. Akhirnya montir g kehabisan akal, kabel speedo disambung lagi manual trus di-isolasi item. At last, speedo kembali jalan, inreyen kembali berlanjut.

kabel yang diisolasi yang mepet radiator

 

Pihak dealer menjanjikan akan secepatnya memberikan speedo baru. Namun sampai hari ini ya belum datang juga. Byuh lha terus kapan rek ? Permasalahan ini mungkin hanya menimpa segelintir motor baru yang bisa jadi bukan hanya cbr yang cbu thailand.

 

Alhamdulillah, akhirnya Pendaftaran STAN mbrojol juga

berdasar info dari stan.ac.id bahwa…

Alhamdulillah pendaftaran STAN yang selama ini digonjang-ganjingkan batal, akhirnya tidak terjadi. Namun hal yang disayangkan adalah pembatasan sebagian pendaftaran D3, sehingga yang tersisa hanya Diploma 1 Keuangan saja.

Link download : http://cdn.stan.ac.id/USMSTAN2011.pdf

By The Way….anyway….busway… yang penting dibuka dulu pendaftarane sehingga generasi muda kita yang memiliki kemampuan inteligensi bagus tapi nasib kurang baik dalam perekonomian keluarga dapat menikmati  “Indahnya Kampus Gratis STAN”.

Semoga dengan dibukanya pendaftaran dapat memberi kesempatan kepada adik2 kelas yang masih “newbie”/ fresh graduate dari Sekolah Menengah supaya bisa kuliah dengan biaya yang minim, tapi dengan kualitas yang standar nasional. Dari tahun ke tahun selalu berhembus kabar miring seputar : “yang katanya lulusan yg diangkat hanya 10 besar, yang bayar, yang telat diangkat”….dan saya menjawab “ora bener, buktinya saya lancar2 saja koq walopun nilai ya ala kadarnya. hehehe….”

Teringat akan urusan nilai, memang minimal 7,0 untuk semua mata pelajaran. tapi saya rasa walaupun nilainya ditetapkan setinggi itu tetap saja yang daftar menembus angka 100 ribu pendaftar. Weleh2 sebegitu terkenalnya kah STAN ini hingga audisinya mengalahkan total peminat “Indonesian Idol”

Nah urusan penggaweyan, setelah lulus langsung 100% otomatis jadi pegawai depkeu (seperti saya). Setidaknya kita tak usah repot2 nyari pekerjaan dengan ngikut pelatihan, Expo, ato ikut tes CPNS di daerah2.

urusan kerjaannya apa, ya jangan ditanya, yang jelas “pekerjaan e akehhhh polll-poll-an”, g percaya, nie buktinya

Potret Pemeriksa Barang di Kantor di daerah Kalimantan

sekian penjelasannya, kalo ada keluhan pertanyaan, langsung saja comment…masbro